| UKM Jerman Bidik Investasi di Indonesia |
|
|
|
| Kontributor BKPPMD | |
| Thursday, 05 July 2012 | |
|
UKM Jerman Bidik Investasi di Indonesia JAKARTA-Perusahaan Jerman yang bergerak di sekitar UKM Melirik Indonesia sebagai alternatif tujuan Investasi di Asia setelah krisis global menekan laju pertumbuhan ekonomi negara tujuan investasi, negara tersebut yaitu India dan China. Dirk Eilers, perwakilan delegasi jerman dari German –Singapore Business Forum, memperkirakan investasi dari Jerman akan meningkat terus kendati ekonomi global mengalami perlambatan. “Pertumbuhan tinggi Indonesia sangat menarik ketika China dan India
terbentur pada masalah karena krisis ekonomi global, ”katanya dalam
acara kunjunagan delegasi Jerman-Singapore Business Forum di Gedung
BKPM, Kamis (5/7).
Eilers mengatakan minat perusahaan Jerman sangat tinggi dalam mempelajari potensi dan peraturan investasi di sektor teknologi kesehatan, industri mesin presisi dan jasa lingkungan hidup di Indonesia. Deputy Chief Exekutive Spring Singapura Ted Tan mengatakan Pengusaha Indonesia, Singapura, dan Jerman memiliki peluang untuk menjalin kerja sama bisnis yang komplementer. Dia mengatkan Singapura bisa menyediakan jasa financial dan konsultasi bisnis untuk membantu perusahaan Jerman mengaplikasikan kemampuan teknologi dalam membangun industri manufaktur memanfaatkan kapasitas sumber daya alam dan manusia Indonesia. “Forum bisnis Singapura-Jerman ini merupakan forum dwitahunan dan ini untuk pertama kalinya diadakan melibatkan negara ketiga, yaitu Indonesia. Potensi Bisnis Tan menjelaskan delegasi perusahaan kecil menengah Jerman dan Singapura tersebut selanjutnya akan mengunjungi Batam untuk melihat Potensi bisnis di daerah tersebut. Ketua Komite Singapura Kadin Iwan Dermawan Hanafi mengatakan Kadin Siap menyediakan informasi bagi perusahaaan asing yang berminat mendirikan perusahaan di Indonesia. “Kadin akan memfasilitasi, kalu mereka perlu networking untuk mencari peluang bisnis atau mitra kerja sama,”katanya. Dia memaparkan pertumbuhan industri jasa pelayanan kesehatan di Indonesia diperkirakan tumbuh 10-12% per tahun dengan nilai impor alat kesehatan mencapai USS447 juta pada 2010. Dalam industri alat dan mesin presisi, lanjutnya, Indonesia membutuhkan investasi dan kemampuan teknologi untuk menunjang pertumbuhan industri manufaktur. Adapun dalam sektor jasa lingkungan hidup, Iwan menyarankan perusahaan Jerman memanfaatkan peluang dalam bisnis eco-tou-rism, teknologi bersih dan terbarukan, arsitektur, dan insfratruktur hijau serta transfer teknologi untuk industri rekayasa mutakhir. (Demis Rizky Gosta). Sumber : Binis Indonesia |
|
| Terakhir diperbaharui ( Monday, 09 July 2012 ) |
|
|
|
|||
|---|---|---|---|


